Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad

Memuat berita…

Memuat berita…

Mewaspadai Hantavirus: Kelompok Rentan dan Cara Pencegahan di Jakarta

Bagikan Artikel:

Fokus Jepara – Kasus hantavirus di Jakarta telah menarik perhatian publik setelah Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengonfirmasi adanya tiga kasus positif serta enam kasus suspek yang masih dalam pemantauan per Mei 2026. Virus ini dapat menimbulkan dampak serius pada kesehatan, termasuk gangguan pada paru-paru dan ginjal jika tidak diatasi segera.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan dan menunjuk sejumlah rumah sakit daerah sebagai rumah sakit sentinel untuk mengawasi kemungkinan munculnya kasus baru. Hantavirus sendiri merupakan virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus, melalui kotoran, air liur, atau urine yang bercampur dengan udara dan terhirup oleh manusia.

Penyakit yang disebabkan oleh hantavirus meliputi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa kelompok dengan sistem imun yang lemah adalah yang paling rentan terpapar hantavirus. Selain itu, profesi tertentu juga berisiko tinggi karena intensitas kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi tikus.

Kelompok pekerja yang berisiko tinggi meliputi:

  • Petugas kebersihan
  • Pekerja gudang
  • Tentara atau petugas di area hutan
  • Penjaga hutan
  • Petugas laboratorium
  • Pemulung
  • Pekerja tempat pengelolaan sampah

Arif Mulyono, peneliti pusat kesehatan masyarakat dan gizi BRIN, menyoroti Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sebagai lokasi dengan risiko tinggi penularan hantavirus. Tumpukan sampah yang menjadi sumber makanan tikus dapat meningkatkan potensi penyebaran virus kepada manusia yang beraktivitas di area tersebut. Pemulung menjadi salah satu kelompok yang paling berisiko, sering bersentuhan langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi tikus dan kotorannya.

Gejala awal hantavirus umumnya mirip dengan flu berat. Banyak pasien yang mengalami:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Pegal-pegal hebat
  • Tubuh lemas

Namun, dalam kondisi yang lebih serius, pasien dapat mengalami:

  • Sesak napas
  • Pneumonia
  • Gangguan ginjal
  • Penurunan kesadaran
  • Kejang

Ngabila Salama, praktisi kesehatan masyarakat, mengingatkan agar masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tersebut, terutama setelah berada di lingkungan yang banyak tikus atau area kotor. Bayi, balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta disebut lebih rentan mengalami kondisi berat jika terinfeksi.

Tingkat kematian akibat hantavirus bervariasi tergantung jenis virus dan kondisi pasien. Pada tipe HPS, tingkat kematian bisa mencapai 35 hingga 60 persen, sedangkan tipe HFRS memiliki tingkat fatalitas yang lebih rendah, sekitar 5 hingga 15 persen. Namun, peluang kesembuhan tetap tinggi jika pasien mendapatkan penanganan medis awal.

Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa kabar mengenai pasien meninggal akibat hantavirus di Bandung adalah kasus lama yang terjadi pada Oktober 2025 dan tidak terkait dengan kasus terbaru di Jakarta.

Untuk mencegah penularan hantavirus, pemerintah dan tenaga kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan. Beberapa langkah pencegahan yang disarankan meliputi:

  • Rajin mencuci tangan
  • Menggunakan masker saat membersihkan area kotor
  • Membasmi tikus di lingkungan rumah
  • Menjaga ventilasi udara tetap baik
  • Tidak membersihkan kotoran tikus dalam kondisi kering
  • Menyemprot area tercemar dengan disinfektan terlebih dahulu

Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada, terutama bagi mereka yang bekerja di area dengan risiko tinggi terhadap paparan tikus.

Memuat berita…

Memuat berita…

Memuat berita…

Memuat berita…

Memuat berita…

Memuat berita…

Ad
Ad